SEJARAH DAN PROFIL DESA PEONEA
KECAMATAN MORI ATAS KABUPATEN MOROWALI UTARA PROVINSI SULAWESI TENGAH
BAB I
PENDAHULUAN
A. Gambaran Umum Desa
Sejarah Desa Peonea tidak dapat dipisahkan dari sejarah dua kampung asal masyarakatnya, yaitu:
- Kampung Matangkoro
- Kampung Pandiri
Kedua kampung tersebut telah lama dihuni oleh masyarakat Mori. Namun dalam perjalanan waktu, kedua kampung menghadapi berbagai kesulitan yang menghambat kehidupan masyarakat.
Walaupun memiliki permasalahan yang berbeda, masyarakat kedua kampung memiliki tujuan yang sama, yaitu memperoleh kehidupan yang lebih layak bagi keluarga dan generasi penerus.
Kesulitan tersebut kemudian mendorong para tokoh adat, tokoh masyarakat, dan kepala kampung untuk mencari solusi terbaik melalui perpindahan pemukiman menuju wilayah yang lebih subur dan memiliki sumber daya alam yang memadai.
B. Kampung Matangkoro
Masyarakat Kampung Matangkoro pada masa itu menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perkebunan.
Namun lahan yang tersedia sebagian besar berada di daerah pegunungan yang dipenuhi batu-batu besar sehingga sulit untuk diolah menjadi lahan pertanian produktif.
Selain kondisi tanah yang kurang subur, luas lahan pertanian juga sangat terbatas sehingga hasil panen tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.
Keadaan tersebut menyebabkan masyarakat sering mengalami kekurangan pangan bahkan pada musim-musim tertentu mengalami kelaparan akibat hasil pertanian yang sangat sedikit.
Kondisi inilah yang kemudian mendorong masyarakat Matangkoro untuk mencari wilayah baru yang memiliki lahan pertanian lebih luas dan lebih subur.
C. Kampung Pandiri
Berbeda dengan Matangkoro, masyarakat Kampung Pandiri menghadapi persoalan utama berupa keterbatasan sumber air bersih.
Sumber air utama masyarakat berasal dari Sungai Pere. Namun ketika musim kemarau tiba, sungai tersebut sering mengalami kekeringan sehingga tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Untuk mendapatkan air bersih, masyarakat harus berjalan menuju Sungai Kolaka di daerah Labuntu dengan jarak sekitar tiga kilometer.
Perjalanan tersebut harus dilakukan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan memasak, mandi, mencuci, hingga kebutuhan pertanian.
Kesulitan memperoleh air bersih menjadi salah satu alasan utama perlunya mencari lokasi pemukiman baru yang memiliki sumber mata air lebih baik.
BAB III
PROSES PERPINDAHAN MASYARAKAT
Melihat berbagai kesulitan yang dialami masyarakat, pada tahun 1948 Kepala Kampung Matangkoro, Bapak Legontasi Lumanga (Almarhum) bersama Kepala Kampung Pandiri, Bapak Mesoga Peuru (Almarhum) mengadakan musyawarah bersama para tokoh masyarakat dan tokoh adat.
Musyawarah tersebut menghasilkan kesepakatan untuk mencari lokasi baru yang lebih layak sebagai tempat tinggal bersama.
Pencarian lokasi dilakukan dengan menyusuri beberapa wilayah hingga akhirnya kedua pemimpin tersebut mendaki sebuah gunung yang saat ini dikenal dengan Gunung Merempe, sekitar 3,5 kilometer dari wilayah Desa Kolaka sekarang.
Dari puncak gunung tersebut mereka melihat sebuah hamparan wilayah yang memiliki:
- tanah yang lebih subur,
- sumber air yang melimpah,
- lahan pertanian yang luas,
- lokasi yang lebih strategis untuk pemukiman.
Setelah melakukan peninjauan secara langsung, lokasi tersebut dinilai sangat layak untuk dijadikan tempat tinggal baru.
Akhirnya masyarakat dari Kampung Matangkoro dan Kampung Pandiri secara bertahap berpindah menuju lokasi tersebut.
Perpindahan ini dilakukan secara bergotong royong dengan membawa seluruh anggota keluarga, peralatan rumah tangga, benih tanaman, serta hewan ternak.
Semangat persatuan dan kebersamaan menjadi kekuatan utama dalam membangun perkampungan baru.
BAB IV
ASAL USUL NAMA PEONEA
Wilayah pemukiman baru tersebut kemudian diberi nama Peonea.
Nama tersebut diambil dari nama sebuah anak sungai yang mengalir di sekitar wilayah pemukiman, yaitu Sungai Peonea.
Sungai tersebut menjadi sumber kehidupan masyarakat pada masa awal pembukaan kampung karena menyediakan air untuk kebutuhan sehari-hari, pertanian, dan perkebunan.
Sejak saat itu nama Peonea digunakan sebagai nama kampung yang kemudian berkembang menjadi desa.
BAB V
PERKEMBANGAN DESA
Pada tahun 1949, Peonea secara resmi ditetapkan sebagai desa definitif dalam wilayah pemerintahan Distrik Tomata.
Seiring berjalannya waktu jumlah penduduk terus bertambah.
Berbagai pembangunan mulai dilakukan secara bertahap, antara lain:
- pembukaan lahan pertanian;
- pembangunan jalan desa;
- pembangunan rumah ibadah;
- pembangunan sekolah;
- pembangunan kantor desa;
- pembangunan fasilitas kesehatan;
- pembangunan jaringan listrik;
- pembangunan jaringan telekomunikasi;
- pengembangan perkebunan rakyat, khususnya kelapa sawit, kakao, kelapa, dan tanaman pangan.
Saat ini Desa Peonea terus berkembang sebagai desa agraris yang mengandalkan sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan usaha masyarakat sebagai penopang utama perekonomian.
BAB VI
PROFIL DESA PEONEA
Identitas Desa
Nama Desa : Peonea
Kecamatan : Mori Atas
Kabupaten : Morowali Utara
Provinsi : Sulawesi Tengah
Luas Wilayah : ±7.200 Hektar
Batas Wilayah
Sebelah Utara berbatasan dengan Sungai Laa.
Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Ensa dan Desa Kolaka.
Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Wawopada, Desa Sampalowo, Desa Togo, dan Desa Ulu Laa.
Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Ensa dan Desa Lanumor.
Kondisi Penduduk
Mayoritas penduduk Desa Peonea bekerja sebagai:
- Petani
- Pekebun
- Peternak
- Pedagang
- Aparatur Sipil Negara
- Wiraswasta
- Buruh
- Pekerja sektor jasa
Jumlah penduduk dan jumlah Kepala Keluarga mengikuti data terbaru Pemerintah Desa yang diperbarui secara berkala.
BAB VII
PEMERINTAHAN DESA
Kepala Desa yang Pernah Memimpin Desa Peonea
- Mesoga Peuru
- Legontasi Lumanga
- Martinus Tulaka
- Tangkaroro
- Ronse Rumope
- Ampai
- Soleman Peuru
- Linggupa
- Fredi Torambu
- Sanggona
- Peuru
- Purangga
- P. Lapeantu
- Sandewa
- Peuru
- Krisman Sumba (2012 – 14 Mei 2026)
- HERNICE OMPOKO, SH ( Juli 2026- Sampai Saat Ini )
Setiap kepala desa telah memberikan kontribusi dalam pembangunan pemerintahan, pelayanan masyarakat, pembangunan infrastruktur, pemberdayaan masyarakat, serta peningkatan kesejahteraan warga Desa Peonea.
Pembagian Wilayah Dusun
Wilayah administrasi Desa Peonea terdiri atas lima dusun, yaitu:
- Dusun I (Pandiri)
- Dusun II
- Dusun III
- Dusun IV (Malei)
- Dusun V (Tole)
Setiap dusun dipimpin oleh seorang Kepala Dusun yang bertugas membantu Kepala Desa dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, pelayanan publik, serta pemberdayaan masyarakat.
BAB VIII
POTENSI DESA
Desa Peonea memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, antara lain:
Bidang Pertanian
- Padi
- Jagung
- Ubi kayu
- Sayuran
Bidang Perkebunan
- Kelapa sawit
- Kakao
- Kelapa
- Pisang
- Durian
- Rambutan
- Langsat
Bidang Peternakan
Bidang Kehutanan
- Hasil hutan bukan kayu
- Rotan
- Bambu
Selain itu, Desa Peonea memiliki potensi pengembangan usaha mikro, perdagangan, wisata alam, serta ekonomi kreatif yang dapat terus dikembangkan melalui kerja sama antara pemerintah desa dan masyarakat.
BAB IX
PENUTUP
Sejarah Desa Peonea merupakan kisah perjuangan masyarakat dalam mencari kehidupan yang lebih baik melalui semangat persatuan, musyawarah, dan gotong royong.
Perpindahan masyarakat dari Kampung Matangkoro dan Kampung Pandiri menuju wilayah Peonea bukan hanya menjadi perpindahan tempat tinggal, tetapi juga menjadi awal terbentuknya sebuah desa yang hingga kini terus berkembang.
Semangat para pendahulu menjadi warisan berharga yang harus dijaga oleh seluruh masyarakat. Nilai-nilai persatuan, kerja sama, kepedulian sosial, penghormatan terhadap adat istiadat, serta semangat membangun desa merupakan modal utama untuk mewujudkan Desa Peonea yang maju, mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan.
Semoga sejarah ini menjadi sumber pengetahuan sekaligus inspirasi bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang agar terus mencintai, menjaga, dan membangun Desa Peonea demi kemajuan bersama.